Sabtu, 28 Mei 2016


Perkembangan teknologi mengakibatkan berlanjutnya perubahan dimensi suatu konsepsi pertempuran, baik ditinjau dari segi sasaran, ruang maupun waktu. Kemajuan teknologi yang berkembang meskipun memiliki keuntungan-keuntungan teknis, namun tidaklah dengan sendirinya dapat menjamin keberhasilan dalam melaksanakan tugas operasi tanpa suatu latihan secara berkesinambungan.
Untuk meningkatkan kemampuan personil dalam menguasai medan pertempuran bawah air, prajuritKomando Pasukan Katak (Kopaska), Detasemen Jala Mangkara (Denjaka), Pasukan Intai Amphibi (Taifib) TNI AL serta pasukan khusus dilingkup TNI AD dan TNI AU yang bergerak sebagai penyelam(combat diver) membutuhkan kelengkapan Senjata  Serbu Bawah Air (SSBA).

Salah satu peperangan bawah air yang perlu diwaspadai yaitu; ancaman penyelam tempur  (combat diver) pihak lawan berupa infiltrasi ancaman sabotase yang sangat potensial bagi kapal-kapal perang maupun personil, yang sulit terdeteksi sehingga dapat mengakibatkan tekanan psikologis. Sehubungan dengan hal tersebut untuk menghindari bahaya sabotase, pihak Labinbair melaksanakan kegiatan penelitian pembuatan SSBA, sebagai wujud kepedulian serta pembekalan kelengkapan senjata Kopaska. TNI AL bekerjasama dengan PT Pindad  (Persero) sesuai bidang dan tugas yang diembannya berperan mengembangkan senjata sehingga tidak terjadi ketergantungan pihak luar sejak beberapa tahun lalu.Pembuatan senjata perorangan bawah air dengan mereverse engineering senjata bawah air jenis APS.  APS merupakan singkatan dari Avtomat Podvodnyj Spetsialnyj(Bahasa Rusia) = Special Underwater Assault Rifle. Senjata ini digunakan untuk menembak musuh dalam ancaman infiltrasi, sabotase dan pengamanan tiap personil pasukan penyelam (combat diver)  serta pembelaan diri melawan binatang buas. Prototype SSBA telah disempurnakan dan mempunyai banyak persamaan dengan senjata Senapan Serbu buatan PT. Pindad jenis varian satu (SS1) maupun varian dua (SS2) dengan model kombinasi.
Persyaratan produk dari SSBA dibuat berdasarkan dari hasil kajian operational requerement(Opsreq)  dari senjata tersebut.  Persyaratan produk SSBA meliputi:
  • Senjata tahan terhadap air laut
  • Bisa berfungsi di darat maupun di dalam air
  • Aman dan mudah dioperasikan
  • Mudah dalam perawatan

Keterbatasan amunisi yang tersedia di lingkungan TNI AL saat ini serta tugas yang diemban oleh pasukan khusus, merupakan hal yang melatarbelakangi penelitian pembuatan amunisi senjata bawah air jenis APS sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan material dibidang amunisi yang dapat dioperasikan di lapangan. 



Amunisi senjata bawah air kaliber 5,66 mm jenis APS merupakan sarana yang sangat penting bagi TNI AL, khususnya bagi pasukan khusus seperti Pasukan Katak (Paska), untuk meningkatkan kesiapan prajurit dalam operasi seperti infiltrasi, sabotase dan serangan pendadakan melalui bawah air. Pengujian di lapangan merupakan tahapan akhir setelah  kegiatan pengujian fisik dan laboratorium yang meliputi : Visual Test, Dimension test, Kekerasan proyektil amunisi kaliber 5,66 mm, Kekerasan kelongsong Amunisi kaliber 5,66 mm dan pengujian laboratorium. Pengujian di lapangan untuk Uji coba amunisi ini yang pertama telah dilakukan di PT Pindad, Turen Malang, kedua dilakukan di Pulau Madura dan ketiga di Pulau Untung Jawa yang dihadiri oleh Wakil dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi, PT Pindad (Persero) dan Jajaran Labinbair Dislitbang TNI AL yang diketuai oleh Kolonel Laut  Muharam Ibrahim, ST (Kepala Labinbair ).Pada uji coba amunisi APS di pulau Untung Jawa Kepulauan Seribu telah dilakukan penembakan di udara terbuka dengan perkenaan melintang dan di dalam air dengan perkenaan menusuk, serta tembakan sempurna dengan Velocity test (Vo) 370 m/dt lebih bagus dari produksi luar negeri.Kegiatan ini masih perlu penyempurnaan lanjutan, untuk peningkatan fungsi amunisi APS sehingga betul-betul siap diproduksi dan memenuhi spesifikasi operasional di lingkungan TNI dan siap untuk mendapatkan sertifikasi. Disamping itu tentu diperlukan kajian keekonomiannya. (sugeng-depIV/ humasristek)

Persyaratan Produk Senjata.

UJICOBA AMUNISI SENJATA BAWAH AIR JENIS APS
Pada 16 Desember 2008, telah dilakukan uji coba Amunisi Senjata bawah air Jenis APS (Avtomat Podvodnyj Spetsialnyj) hasil penelitian Labinbair Dislitbang TNI AL bekerja sama dengan PT Pindad yang telah dibiayai dari  Program Insentif Terapan  Kementerian Negara Riset dan Teknologi Tahun anggaran 2008. Amunisi ini merupakan jenis amunisi untuk senjata bawah air yang merupakan satu jenis persenjataan Pasukan Khusus TNI AL.

Kegiatan pengujian/ujicoba ini berhasil dengan baik, aman dan lancar baik terhadap personil maupun material peralatan yang digunakan dan waktu sesuai dengan jadwal yang direncanakan. 
Diharapkan hasil kegiatan pembuatan prototype SSBA ini mampu menyediakan senjata perorangan penyelam tempur dengan mempertimbangkan suku cadang material bahan yang mudah diperoleh dan tersedia di dalam negeri. Semoga ditahun ini SSBA sudah bisa diproduksi massal dan melengkapi alutsista pasukan-pasukan khusus kebanggan kita, Amieen… Jaya terus untuk tim Litbang AL dan PT. Pindad….

Kemampuan Denjaka TNI AL Lebih Unggul di Arena Latihan Internasional

Dalam Latma Multilateral Rim of The Pacific (Rimpac) 2014 yang berlangsung 26 Juni hingga 1 Agustus 2014, Marinir TNI AL menjadi kontingen Indonesia. Dalam pelatihan tersebut, mereka kembali menorehkan tinta emas. Dua anggota Datasemen Jala Mangkara (Denjaka), sebuah Datasemen pasukan khusus TNI AL, telah menerima label Godzilla sebagai penghargaan bagi peserta tertangguh selama pelatihan.
“Justru aneh jika kita tidak menjadi yang terbaik dalam pelatihan ini. Karena setiap pelatihan seperti ini kita selalu menjadi yang terbaik,” ujar Serka (Mar) Riyanto Pane, salah seorang penerima penghargaan tersebut.
Selain Pane, penerima lainnya ialah Kopda (Mar) Subiyanto. Keduanya membuktikan bahwa kemampuan Denjaka memang berada di atas kemampuan tentara angkatan laut negara lain peserta Rimpac 2014.
“Keunggulan tentara kita itu tidak pernah mengenal kata menyerah. Mungkin karena kita memiliki pepatah lama bahwa tidak ada rotan, akar pun jadi. Ini bisa negatif, juga bisa positif maknanya. Dan kita tidak pernah ketergantungan oleh satu alat. Contoh, ketika latihan menembak di sana, walaupun dengan menggunakan alat seadanya, ya kita jauh lebih unggul dibandingkan mereka yang sudah pakai alat canggih sekalipun, tetap mereka masih lewat dengan kami,” ujar Pane saat ditemui JMOL di Bumi Marinir Cilandak beberapa waktu lalu.
Menurutnya, TNI sudah terbiasa dengan hal-hal yang serba kekurangan. Hikmahnya, secara kemampuan, jauh lebih unggul.
Sementara itu, Kopda (Mar) Subiyanto menambahkan, “Memang kalau secara peralatan, kita jauh tertinggal, tetapi kemampuan kita bisa sejajar, bahkan lebih dari mereka.”
Kedua pria yang sebelumnya berasal dari Batalyon Intai Amfibi (Taifib) ini mengakui dengan rendah hati bahwa porsi latihan di sana tidak ada yang lebih dari porsi latihan di sini.
“Dari sekian banyak porsi latihan yang diberikan oleh instruktur pada dasarnya sama saja, hanya namanya saja yang beda (menggunakan bahasa Inggris—red). Di sini pun kami juga sudah mendapat latihan seperti itu, bahkan sudah lebih jauh,” ujar Subiyanto.
Tetapi, mereka berdua mengakui bahwa pelatihan ini sangatlah berkesan dan istimewa, terutama dalam hal persahabatan antarbangsa dan antarnegara.
“Jadi, pada intinya, tidak ada yang baru dalam porsi latihan dan kemampuan, akan tetapi manfaat yang sangat berharga dalam latihan Rimpac ini adalah bagaimana kita menjalin hubungan dengan negara-negara lain. Jadi, maksud dari atasan-atasan kami mengirim kami ke sana agar mampu menyamakan persepsi dan mempererat hubungan antarnegara tadi. Dan saya katakan bahwa pelatihan ini sangat istimewa, karena kami bisa bersahabat dengan tentara dari negara lain,” tutur Pane.
Tetap Beribadah Puasa
Yang menarik dalam pelatihan Rimpac 2014 lalu dilaksanakan dalam nuansa bulan puasa bagi yang beragama Islam. Sehingga bagi yang menjalankan ibadah puasa akan menjadi kendala selama pelatihan.
Tetapi, hal itu tidak berlaku bagi anggota Denjaka. Mereka tetap dengan semangat mengikuti porsi latihan dan menjadi panutan bagi tentara negara lain.
“Ini yang mereka heran, terutama US Marine. Mereka kalau latihan pasti bawa minum satu orang botol besar. Mereka sangat kaget melihat kita yang berpuasa tetapi tetap menjalankan porsi latihan yang sama,” ungkap Pane dengan penuh semangat.
Karena kemampuan dan ketangguhannya, Marinir Indonesia kerap mendapat pujian dan rasa kagum dari tentara negara lain. Ini pun diakui saat berakhirnya pelatihan, tenda Marinir Indonesia banyak dikunjungi kontingen negara lain.
“Yang pasti mereka sangat kagum dengan kita. Terlihat saat berakhirnya pelatihan, tenda Indonesia paling banyak dikunjungi oleh kontingen dari negara lain,” kenang Pane.
Pelatihan Rimpac 2014 diikuti 23 negara, dan untuk Marinir, dipusatkan di Kaniohe Bay (Marine Corps Base Hawaii).
Sumbber : Jurnal Maritim

DENJAKA satuan elite seleksi dari Taifib korps MARINIR dan KOPASKA TNI AL

Detasemen Jala Mangkara (disingkat Denjaka) adalah sebuah Detasemen Pasukan Khusus TNI-AL yang menempati Hirarki tertinggi dalam jajaran Korps Marinir dan TNI-AL. Denjaka dibentuk berdasarkan instruksi Panglima TNI kepada Komandan Korps Marinir No Isn.01/P/IV/1984 tanggal 13 November 1984. Denjaka adalah satuan gabungan antara personel Taifib Korps Marinir dan Kopaska TNI-AL



Denjaka terdiri dari :
1. Satuan markas Detasemen2. Satuan tim markas3. Satuan tim teknik4. Tiga tim tempur.

Segala aktifitas Denjaka bersifat rahasia dan sangat jarang dipublikasikan. Sebagai unsur pelaksana, prajurit Denjaka dituntut memiliki kesiapan operasional, mobilitas, kecepatan, kerahasiaan, dan pendadakan yang tertinggi. medan operasi yang berupa kapal-kapal, instalasi lepas pantai dan daerah pantai. Disamping itu juga memiliki keterampilan mendekati sasaran melalui laut, bawah laut dan vertikal dari udara. Kemampuan Denjaka tak hanya dapat bertempur, tapi juga berperan sebagai satuan intelijen tempur yang handal. Pendidikan hampir 9 bulan dihabiskan untuk menciptakan pasukan Intai Amfibi yang handal, cepat dan rapih dalam menyelesaikan suatu misi khusus.



Tak heran manuver dan gerakan personel Denjaka dalam operasi klandestein membuat musuh kewalahan. Denjaka mampu bertempur di darat, laut, udara dan bawah permukaaan air. Mereka juga memiliki skill yang dimiliki pasukan Kopaska dan Linud (setingkat Parako) untuk menjalankan misinya di TNI. Denjaka juga biasa di libatkan untuk pengamanan Presiden (Paspampres).

Tidak heran, di antara ratusan prajurit yang mengikuti seleksi pendidikan Denjaka, hanya sekitar 50 an orang yang diterima. Mereka akan dilatih keras di kawah candradimuka di Situbondo. Tahun-tahun sebelumnya, sering hanya belasan prajurit yang memenuhi syarat. Mereka yang tak lulus dikembalikan ke kesatuannya semula. Setelah masuk tahap seleksi ke II, Tidak semua yang mengikuti pendidikan tersebut lolos. beberapa di antara mereka dimungkinkan akan dikembalikan ke kesatuannya karena tidak mampu mengikuti.Selain fisik prima, calon Denjaka juga dituntut memiliki IQ tinggi. Sebab, pasukan elite yang sering digunakan untuk penyusupan di daerah operasi itu harus mampu menghadapi berbagai masalah, baik secara individu maupun kelompok. Tidak hanya jago tempur, prajurit Denjaka juga memiliki pengetahuan tentang terorisme dan sabotase, penjinakan bahan peledak, dan peningkatan kemampuan survival, pelolosan diri, pengendapan, dan ketahanan interogasi.



Selama menjalani pendidikan. Teori di kelas hanya 20 persen. Selebihnya di lapangan, seperti hutan, laut, bahkan udara. Mereka harus mempunyai kemampuan terbaik di darat, laut, dan udara. Mereka dituntut mampu melaksanakan tugas rahasia secara sempurna. Untuk mencapai semua itu, diperlukan pendidikan yang sangat keras dan ketat. Mereka harus mampu menyusup dengan terjun payung, bergerak lincah di laut dengan daya tahan tinggi, serta survive di darat.
Mereka ditempah di tengah ombak ganas di Laut Banyuwangi, yang biasanya menghanyutkan perahu nelayan. Dengan tangan dan kaki diikat, para prajurit tersebut dibuang ke laut ganas itu. Mereka harus mampu bertahan sekaligus menyelamatkan diri.“Latihan mereka cukup berat. Kaki dan tangan diikat pun bisa hidup. Kenapa sampai demikian? Bila sewaktu-waktu prajurit trimedia (menguasai medan darat, laut, dan udara) itu dibuang ke laut dalam keadaan tangan dan kaki terikat oleh musuh, mereka akan mampu menyelamatkan diri.



Setelah melawan ombak besar di laut, mereka juga dituntut bertahan hidup di hutan tanpa perbekalan sedikit pun. Untuk menguji daya tahannya itu, para prajurit terpilih tersebut dilepas di tengah hutan dengan hanya bermodalkan garam. Air minum pun tidak diperkenankan dibawa. Selebihnya, cari sendiri di hutan. Latihan itu dilakukan di Alas Purwo. Di sana, mereka dilepas untuk melatih ketahanan fisik dan kemampuan perorangan. Di tengah hutan, mereka harus bertahan berhari-hari. Mereka tak jarang hanya makan binatang buas, seperti ular. Bila mampu menangkap monyet, hewan itu pulalah yang disantap. Selama tiga hari tiga malam, mereka tidur di tengah hutan rimba tersebut. Kadang-kadang, juga lebih.Itu semua belum cukup. Soal pukul-memukul oleh instruktur untuk melatih mental bukanlah hal aneh di kalangan mereka. Mereka benar-benar harus siap mental dan fisik. Begitu kerasnya, tidaklah heran kalau di awal pendidikan itu, ada yang mengundurkan diri.



Untuk latihan udara, mereka bukan lagi dilatih terjun tempur seperti prajurit biasa. Kalau terjun tempur, begitu keluar dari pintu pesawat, payung sudah terbuka. Tapi, Denjaka dilatih terjun bebas. Yang menarik, terjun bebas itu tidak saja dilakukan siang, tapi juga tengah malam. Dengan begitu, bila sewaktu-waktu masuk ke sasaran musuh, mereka tidak harus lewat darat atau laut yang mudah dideteksi lawan. Para Denjaka juga bisa diturunkan dari pesawat dengan ketinggian yang sulit terdeteksi musuh.
Untuk mendukung operasi personel Denjaka dibekali antara lain submachine gun MP5, Daewoo K7, senapan serbu G36, HK416, Pindad ss-1, CZ-58, senapan mesin ringan Minimi M60, Daewoo K3, serta pistol Beretta dan SIG Sauer 9 mm.



Untuk menghindari pendeteksian musuh, mereka harus piawai menyelam. Dengan menggunakan kompas, sambil menghitung derajat daerah sasaran, para Denjaka harus bisa muncul di titik yang tepat. Itu baru tahap latihan. Bila pelantikan atau dikenal dengan pembaretan, mereka harus jalan kaki siang malam. Itu sering dilakukan Banyuwangi-Surabaya. Mereka dilepas di Banyuwangi dan diperintahkan kumpul di Surabaya dalam waktu yang ditentukan. Bila naik kendaraan dan ketahuan instruktur, hukuman berat bakal dirasakan. Baretnya pun bakal tak hinggap di kepala.

Angkatan Laut Amerika Serikat, US NAVY SEAL kerap mengundang Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) untuk ikut latihan tempur bersama. Setiap prajurit Denjaka dipastikan memiliki kemahiran kualifikasi Taifib dan Paska. Selain itu punya kemampuan menembak, lari dan berenang, peningkatan kemampuan bela diri, penguasaan taktis dan teknik penetrasi rahasia, darat, laut dan udara.
Mereka punya high skills seperti combat skills yang lain (teknik membunuh cepat dengan tangan kosong etc). Satuan Kopassus untuk mengambil breavert US Navy Seal saja harus sekolah dulu di Kopaska, katanya breavert US Navy Seal diluar Amerika yang diakui hanya dari Kopaska TNI AL (unit Denjaka). 
Konon katanya, Denjaka terbagi menjadi dua bagian yaitu : Denjaka Putih dan Denjaka Hitam.Denjaka putih memiliki kemampuan diatas dan kalo denjaka hitam itu lebih lagi ! Denjaka Hitam ini biasanya menjadi komandan dari misi tertentu.

Denjaka hitam itu pasukan yang bahkan keberadaanya masih dirahasiakan oleh negara dan simpang siur kebenarannya! Hal itu mungkin untuk menutupi identitas mereka demi kelancaran dan profesional tugas..!! konon Denjaka hitam punya ilmu yang enggak masuk akal, Seperti punya six sense! Tahan nafas lama di dalam air! Melempar benda tajam seperti pisau, pecahan kaca, silet, potongan besi dll tepat sasaran ! Ilmu kanuragan! Tenaga dalam! Ilmu kebal peluru! Ramal cuaca! Dsb.


Sumber : Wikipedia dll.

TNI DENJAKA Indonesia


Detasemen Jala Mangkara (disingkat Denjaka) adalah sebuah detasemen pasukan khusus TNI Angkatan Laut. Denjaka adalah satuan gabungan antara personel Kopaska dan Taifib Korps Marinir TNI-AL. Anggota Denjaka dididik di Bumi Marinir Cilandak dan harus menyelesaikan suatu pendidikan yang disebut PTAL (Penanggulangan Teror Aspek Laut). Lama pendidikan ini adalah 6 bulan. Intinya Denjaka memang dikhususkan untuk satuan anti teror walaupun mereka juga bisa dioperasikan di mana saja terutama anti teror aspek laut. Denjaka dibentuk berdasarkan instruksi Panglima TNI kepada Komandan Korps Marinir No Isn.01/P/IV/1984 tanggal 13 November 1984. Denjaka memiliki tugas pokok membina kemampuan antiteror dan antisabotase di laut dan di daerah pantai serta kemampuan klandestin aspek laut. 



Denjaka adalah sebuah detasemen Khusus Marinir Angkatan Laut TNI Anggota Gabungan dari (KOPASKA) dan (TAIFIB). Denjaka dididik di Bumi Marinir dan harus menyelesaikan pendidikan yang disebut PTAL (Penanggulangan Teror Aspek Laut).
Segala aktifitas Denjaka bersifat rahasia dan sangat jarang dipublikasikan.Denjaka ditintut memiliki kesiapan operasional, mobilitas, kecepatan, kerahasiaan dan pendadakan yang tertinggi. Medan operasi yang berupa kapal-kapal, instalasi lepas pantai dan daerah pantai.Disamping itu juga memiliki keterampilan mendekati sasaran melalui laut, bawah laut dan vertikal dari udara.

Diantara ratusan prajurit yang mengikuti seleksi pendidikan DENJAKA hanya sekitar 50 an orang yang diterima. Mereka akan dilatih keras di kawah candradimuka Situbondo. Tahun-tahun sebelumnya sering hanya belasan prajurit yang memenuhi syarat. Mereka yang tak lulus dikembalikan ke kesatuannya semula.
Setelah masuk tahap seleksi I tidak semua yang mengikuti pendidikan pendidikan tersebut lolos, beberapa di antara mereka yaang gagal akan dikembalikan kembali ke kesatuannya.

DENJAKA mampu berenang dengan tangan terikat dan kski terikat melewati Selat Sunda (Armabar) dan Selat Madura (Armatim). Ada pula pola latian dengan tubuh di ikat tali diberi balok besi dan dijatuhkan dalam perairan selat bali hingga tenggelam. Misinya untuk melepaskan diri dari cengkraman itu.Dalam segi tingkat kemampuan 1 Prajurit DENJAKA digadang-gadang sebanding dengan 120 TNI.

 Dengan tangan dan kaki terikan mereka harus mamapu bertahan sekaligus menyelamatkan diri , kenapa sampai demikian? Bila sewaktu-waktu prajurit trimedia (Medan darat,laut, dan udara) itu di buang kelaut dalam keadaan tangan dan kaki terikat oleh musuh mereka mampu menyelamatkan diri. Setelah melawan ombak besar di laut mereka juga di tuntut bertahan hidup di hutan tanpa perbekalan sedikitpun. Untuk menguji daya tahannya itu, para prajurit terpilih tersebut di lepas di tengah hutan dengan hanya bermodalkan garam. Air minumpun tidak di perkenankan. Selebihnya, cari sendiri di hutan. Latihan itu di lakukan di alas purwo, di sana mereka di lepas untuk melatih ketahanan fisik dan kemampuan perorangan.

Selama menjalani pendidikan, teori di kelas hanya 20% selebihnya di lapangan, seperti hutan, laut, dan udara. Mereka harus mempunyai kemampuan terbaik di lautan, darat, dan udara. Mereka di tuntut mampu melaksanakan tugas rahasia secara sempurna. Untuk mencapai semua itu di perlukan pendidikan yang sangat keras. Mereka harus mampu menyusup dengan terjun payung, bergerak lincah di laut dengan daya tahan tinggi. Serta survive di darat. Mereka di tempa di tengah ombak ganas Laut Banyuwangi.